Penelope

 


Beberapa waktu lalu, rumah terasa sepi.
Sepi yang tidak biasa. Ada ruang kosong yang sulit dijelaskan. Saya baru saja kehilangan anjing husky kesayangan.
Kepergiannya meninggalkan duka yang dalam. Bukan hanya kehilangan hewan peliharaan. Tapi kehilangan teman.
Teman yang selalu ada. Teman yang setia tanpa syarat. Hari-hari setelah itu terasa berat.

Saya sering terdiam. Sering menatap sudut rumah yang dulu ia tempati. Kadang berharap ia tiba-tiba muncul lagi. Tapi kenyataannya tidak begitu. Kesedihan itu nyata. Dan cukup lama menetap.

Saya mencoba sibuk. Mencari distraksi.
Melakukan banyak hal. Tapi tetap saja terasa kurang. Ada yang hilang. Ada yang belum tergantikan. Di tengah suasana itu, saya mulai berdoa. Doa sederhana. Meminta hati ini kembali tenang. Meminta ada hal kecil yang bisa menghibur. Saya tidak meminta pengganti. Hanya berharap ada pelipur lara.

Sampai suatu hari, sesuatu terjadi hal kecil.
Tapi bermakna besar. Sore itu, saya mendengar suara pelan. Seperti suara kucing kecil, Awalnya samar lalu terdengar lagi lebih jelas.

Saya keluar rumah, Mencari asal suara itu.
Dan di sana, di dekat halaman, saya melihatnya. Seekor kucing kecil.
Betina berwarna abu-abu putih. Tubuhnya mungil, Bulu-bulunya tampak lembut. Matanya besar. Dan terlihat sedikit takut. Tapi juga penasaran.

Ia menatap saya lama... Seolah ingin mengatakan sesuatu. Seolah ingin minta bantuan. Saya mendekat pelan, tidak ingin membuatnya kaget. Ia sempat mundur sedikit. Lalu berhenti... Dan tetap melihat saya.

Saat itu, ada perasaan aneh... Hangat. Seperti ada yang tersentuh. Saya mencoba memanggilnya.Dengan suara lembut. Ia tidak pergi. Justru mendekat sedikit. Langkah kecilnya pelan. Tapi pasti. Dan akhirnya ia sampai di dekat kaki saya.

Saya jongkok. Mengulurkan tangan. Ia mencium tangan saya. Pelan...Hati-hati. Lalu sesuatu yang tidak saya duga terjadi. Ia menggesekkan tubuhnya. Seperti sudah kenal lama. Di momen itu, hati saya terasa ringan..Sedikit..Tapi nyata.

Saya membawanya masuk, memberinya makan, dan air minum. Ia makan dengan lahap. Seolah sudah lama tidak makan. Seolah merasa aman.

Sejak saat itu, ia tidak pergi. Ia memilih tinggal. Dan saya juga tidak keberatan. Hari demi hari berlalu. Kucing kecil itu mulai beradaptasi. Ia mulai berani, mulai aktif. Dan mulai menunjukkan tingkah lucunya.

Ia suka berlari kecil. Mengejar bayangannya sendiri. Kadang mengejar cahaya. Kadang bermain dengan benda kecil. Ia juga suka tidur di tempat aneh. Di atas sandal. Di sudut sofa yang biasa huski tiduri, Bahkan di atas baju saya.

Kadang ia tiba-tiba lompat. Tanpa alasan jelas. Dan membuat saya tertawa. Ia juga suka mengikuti saya. Ke mana pun saya pergi di rumah. Seperti bayangan kecil. Saat saya duduk, ia naik ke pangkuan. Lalu meringkuk Dan tertidur. Suara dengkurannya pelan tapi menenangkan.

Perlahan, saya mulai merasa berbeda. Rumah tidak lagi sepi. Ada kehidupan kecil yang hadir. Kesedihan itu masih ada. Tapi tidak seberat dulu. Karena sekarang ada yang menemani. Saya mulai percaya. Bahwa kehadirannya bukan kebetulan. Seperti jawaban dari doa saya. Datang di waktu yang tepat. Di saat saya butuh.

Mama kemudian memberi nama untuknya.
Penelope nama yang indah, Sejak saat itu, ia resmi menjadi bagian dari keluarga. Penelope tumbuh dengan cepat. Semakin aktif. Semakin manja. Ia punya banyak kebiasaan lucu. Suka mencuri perhatian. Suka duduk di depan layar laptop saat saya bekerja.

Kadang ia mengetik dengan kakinya.
Seolah ikut bekerja. Ia juga suka bermain dengan kertas. Mengacak-acaknya. Lalu pura-pura tidak bersalah. Setiap hari selalu ada hal baru. Hal kecil yang membuat saya tersenyum.

Penelope bukan sekadar kucing. Ia menjadi teman. Menjadi penghibur. Menjadi bagian dari proses penyembuhan. Saya belajar lagi untuk menyayangi. Pelan-pelan. Tanpa terburu-buru. Dan ternyata hati ini bisa terbuka lagi. Kini, setiap pulang ke rumah, saya tidak lagi merasa kosong. Selalu ada yang menyambut. Dengan langkah kecilnya. Dengan suara lembutnya.

Saya bersyukur, Atas kehadiran Penelope. Dan saya berharap. Bisa terus merawatnya. Menjaganya. Menyayanginya. Apa pun yang terjadi nanti. Semoga saya selalu mampu. Bukan hanya untuk Penelope. Tapi juga untuk anak-anaknya kelak.

Semoga rumah ini selalu menjadi tempat aman untuk mereka. Penuh kasih. Penuh perhatian. Dan semoga saya tidak pernah lupa. Bahwa kadang, kebahagiaan datang dari hal kecil. Seperti seekor kucing kecil. Yang datang di waktu yang tepat.

Buat tulisan ini sambil mewek... 😭😭

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polemik MBG

Who Am I ?

Sketsa Hidup ....